Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

HARI MINGGU BIASA XXXIII/A/2017

Ams 31:10-13.19-20.3031; 1 Tes 5:1-6; Mat 25:14-30;

PENGANTAR
    Yesus dalam Injil Matius hari ini menunjukkan sikap dasar rasa tanggung jawab yang harus dimiliki setiap orang atas hidupnya, yang telah diberikan kepadanya. Pelaksanaan rasa tanggung jawab atas penghayatan hidupnya di dunia sekarang inilah yang akan menentukan keadaan lanjutan nasibnya dalam hidupnya kekak yang akan datang.

HOMILI
    Sepintas lalu kita dapat mendapat kesan, bahwa Yesus mengajarkan pengertian tentang ekonomi yang bersifat kapitalistik. Padahal Yesus selalu menekankan kepada kita untuk banyak berbuat baik dan saling menolong, terutama terhadap kaum berkekurangan. Metode yang dipakai Yesus dalam menampilkan ketiga orang hamba yang diberi uang untuk dikembangkan itu juga lain sekali. Seolah-olah justru bertentangan dengan hukum dan perintah-Nya tentang cinta kasih.

    Timbul pertanyaan : Apakah maksud Yesus dalam perumpamaan itu?

    1. Apakah Yesus mau menunjukkan adanya perbedaan kemampuan dan sikap dasar setiap orang untuk bersedia mengerjakan dan memanfaatkan anugerah-anugerah yang telah diberikaannya?

    2. Atau mau ditunjukkan bahwa kedua hamba yang pertama itu adalah orang yang sadar akan anugerah Allah yang mereka terima, maka juga dibalas dengan mengolah dan menggunakannya dengan penuh rasa syukur dan tanggung jawab dalam hidup mereka sehari-hari.

    3. tau apapah Yesus mau menekankan, bahwa kita harus percaya dan yakin bahwa Allah adalah Allah yang maha baik (seperti disadari oleh dua hamba yang pertama), dan bukan Allah yang keras dan kejam (menurut anggapan hamba ketiga).

    Sikap dan reaksi hamba ketiga tidak mudah ditebak : ia tampak sangat hati-hati dan tidak pasti. Rupanya ia adalah orang yang jujur dan tulus. Ia bukan orang yang cerdas, sebab ia menerima jumlah uang terkecil. Tetapi seandainya ia bukan orang yang berkelakuan baik, ia pasti tidak akan diberi suatu bagian walaupun hanya sedikit. Sebaliknya kedua hamba yang lain adalah orang-orang yang tahu berdagang. Mereka tahu dan berhasil melipatduakan modalnya. Hamba ketiga sebaliknya adalah orang yang hidup penuh ketakutan, sebab si tuan pemilik uang bersifat tamak, loba, lapar uang, tak mau rugi. Karena itu demi keamanan hamba ketiga itu tidak mau mengambil risiko, maka uang itu disimpan dan disem-bunyikan. Jadi hamba ketiga itu tak mau mengambil risiko, dan tak mau mengambil putusan yang tidak pasti. Akibatnya, tanggapan si pemilik uang sangat keras. Hamba ketiga itu kehilangan segala yang dimilikinya. Seandainya ia secara jujur mau berusaha melaksanakan tugasnya, meskipun mungkin tidak berhasil, mungkin ia menerima perlakuan yang lain dari tuannya dan lebih dapat dipahami.

    Pelajaran apakah yang ingin disampaikan Yesus dalam perumpamaan hari ini kepada kita? Apabila kita memiliki gambaran tentang Allah yang sangat "miskin", terbatas, negatif, dengan penuh ketakutan dan kekhawatiran, akan juga bersikap dan berbuat secara demikian terhadap sesama kita. Kemiskinan atau keterbatasan hamba ketiga itu ialah rasa takut, rasa khawatir, ketidakpastian terhadap sesamanya. Rasa takut, sikap hidup yang dihantui kekhawatiran "jangan-jangan nanti salah", akan menghambat sikap hidup setiap orang yang harus tahu dan mau menghadapi keadaan nyata yang ada.

    Yesus mau mengatakan, bahwa kita harus menghilangkan rasa takut, dan supaya kita rajin, mau berusaha secara tekun, dapat dipercaya dan kreatif dalam melaksanakan kehendak Allah. Bukan justru takut, tak mau berikhtiar sekuat tenaga, dan hanya mengharapkan saja. Hidup sebagai murid Kristus berarti mau dan berani berbuat seperti dilakukan-Nya. Misalnya Yesus menyembuhkan orang sakit meskipun hari Sabat. Ia mau bertemu dengan orang-orang yang dianggap "orang-orang berdosa", seperti pemungut pajak, wanita pelacur, dan justru untuk menolong, memberi makan kepada orang-orang yang lapar dan sebagainya, untuk menyelamatkan mereka.

    Kebaikan hati dan kasih Allah kepada kita dibuktikan dengan mengutus Yesus, Putera-Nya, kepada kita. Yesus adalah anugerah Allah kepada kita sebagai seorang pribadi, yang kebesaran atau keagungan-Nya ialah, bahwa Ia maju dan berani mengambil risiko untuk mengorbankan diri-Nya. Taat dan melakukan kehendak Bapa berarti memiliki kemauan, keberanian dan kesediaan untuk menolong orang lain disertai kesanggupan menanggung segala resiko. Tuhan memberikan kepada setiap orang anugerah sesuai dengan kemampuannya. Kesediaan untuk menerima dan menggunakannya sesuai dengan kehendak-Nya, seperti dilakukan oleh Yesus sebagai teladan, dengan segala risikonya, itulah yang akan menentukan keputusan Allah pada pengadilan terakhir untuk hidup kita masing-masing.

 

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/