Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

HARI MINGGU BIASA XXX/C/2019

Sir 35:12-14.16-18; 2 Tim 4:6-8.16-18; Luk 18:9-14;

PENGANTAR
    Dalam Injil Lukas hari ini Yesus menunjukkan perbedaan sikap dasar pribadi di antara orang Farisi dan orang pemungut cukai. Kenyataan perbedaan yang mendasar tersebut terbukti dalam doa, yang mereka panjatkan kepada Allah dalam Bait Allah. Pada akhir kata-kata-Nya Yesus bersabda : "Barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan, dan barang siapa merendahkan diri akan ditinggikan".

HOMILI
    Dalam doanya orang Farisi memperlihatkan pada dirinya hal-hal yang yang patut dijadikan teladan. Hal-hal yang baik itu ialah bahwa ia pergi ke Bait Allah. Bahwa ia bukan hadir di Bait bagian belakang tetapi di bagian depan. Dan apa yang dikatakannya adalah benar dan baik. Ia bukan perampok, bukan penipu, bukan pezinah, ia juga bukan pemupuk cukai. Apa yang dikemukannya adalah benar. Ia berpuasa dua kali seminggu dan ia membayar cukai. Hal-hal ini memang tidak mudah ditaati. Bagi kita umat kristiani pun tidak mudah dilaksanakan. Dan adalah baik bahwa orang Farisi itu bersyukur kepada Tuhan. Semua yang diperintahkan dilaksanakan! Tetapi yang keliru atau bertentangan dengan kehendak Allah ialah, bahwa ia dalam melakukannya memuji dan sangat membanggakan dirinya sendiri, merasa mengatasi orang-orang lain dan membanggakan diri di hadapan Alah. Padahal Yesus sebelumnya sudah menegaskan bahwa manusia di hadapan Allah adalah hamba-hamba yang tak berguna, sementara itu orang farisi itu menganggap dirinya sebagai hamba yang berguna. Ia memandang diri bukan seba- gai hamba melainkan sebagai orang yang disukai Allah. Karena segala yang baik dianggap sebagai hasil dari dirinya sendiri, walaupun sebenarnya adalah anugerah Allah, maka segalanya yang sungguh benar dan baik disampingkan. Akhirnya hanya kesombonganlah yang masih terpelihara.

    Mengenai si pemungut cukai, hal-hal tersebut dapat juga dikatakan, namun dengan pengertian yang sangat berlainan. Hal-hal buruk atau negatif yang ditujukan kepadanya adalah benar juga. Ia berada di tempat Bait Allah yang tidak wajar. Dan ia tidak berani mengarahkan mukanya ke atas ke surga. Dan itu ada sebabnya. Pandangannya begitu diarahkan kepada hal-hal duniawi, sehingga tak dapat ditujukan kepada Allah. Tetapi "ia memukul diri dan berkata" "Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini" (Luk 18:13). Dan itu memang dapat dibenarkan, sebab ia sungguh beralasan untuk bertobat. Ia menyebut dirinya orang berdosa dan itu memang benar! Ia merasa menderita dalam hatinuraninya, tetapi mohon rahmat pengampunan Allah. Itulah satu-satunya jalan yang harus ditempuhnya. Ia sadar akan dirinya dan tidak merasa dapat membanggakan diri atas dirinya. Maka yang mungkin baginya ialah mohon ampun kepada Allah. Itulah sikap dasar keyakinan batin yang sebenarnya. Kesalehan sejati menurut ajaran Yesus bukanlah berupa suatu perbuatan manusia sendiri, yang lalu dipersembahkaan kepada Allah, tetapi suatu perbuatan Allah, yang mau tunduk memberikan diri kepada manusia. Kesalehan dan hidup beragama pertama-tama adalah rahmat ilahi. Barangsiapa menganggap dirinya selalu serba benar, ia menggantung pada diri dirinya sendiri dan akan binasa.Tidak ada kesucian atas kekuatan diri sendiri, kesucian hanya dapat diperoleh karena dan oleh Allah.

    Apa yang dilakukan orang Farisi itu merupakan suatu peringatan bagi setiap orang yang sangat erat hubungannya dengan kesalehan, kebatinan, keagamaan. Jangan sampai kita ini jatuh dalam suatu mekanisme dan kebiasaan rohani yang dangkal dan hanya melulu tampak serba lahiriah. Sebaliknya apa yang diceriterakan tentang si orang Farisi merupakan suatu hiburan bagi semua orang yang lemah hidup batinnya, lemah kesadaran hatinya, mudah terpengaruh hawa nafsunya. Jangan sampai ia mejauhkan diri dari kerahiman Allah, asal kita selalu tahu dan sadar, bahwa kejujuran dan kemurnian hati mengenai keadaan diri selalu merupakan jalan yang terbuka dan tersedia untuk selalu kita tempuh. Kita ini dapat selalu banyak belajar dan menarik kesimpulan dari sikap serta perbuatan baik dari kaum Farisi maupun dari si pemungut cukai. Kita hanya dapat berkembang dan menjadi kuat apabila kita tahu dan sadar akan kelemahan kita sendiri.

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/