Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

HARI MINGGU BIASA XXIX/B/2018

Kej 2:18-24; Ibr 2:9-11; Mrk 10:2-16;

PENGANTAR
    Sungguh indah dan memberi hati kepada kita kata-kata dalam Surat kepada Orang Ibrani kepada kita tentang Yesus ini : "Imam Agung yang kita punya bukanlah imam agung yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelamahan kita. Sebaliknya, Ia sama dengan kita! Ia telah dicobai, hanya saja tidak berbuat dosa" (Ibr 4:15). Kitab Suci dalam perayaan Ekaristi ini menunjukkan kepada kita, bagaimana kita sebagai sesama harus saling bersikap, hidup dan berbuat secara sungguh manusiawi, khususnya dengan tidak menggunakan kekuasaan. Yesus menegaskan : "Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu!" (Mrk 10:43).

HOMILI
    Sungguh bahagialah kita memiliki pegangan rohani yang tertulis dalam Surat kepada Orang Ibrani, di mana ditegaskan bahwa kita memiliki Yesus sebagai Imam Agung, yang seperti kita ikut merasakan kelemahan-kelemahan manusiawi kita. Seperti kita, Ia pun dicobai, mengalami tantangan dahsyat dalam hidup-Nya, namun tidak berdosa. Yesus rela menderita kehinaan dan kesengsaaan luarbiasa, rela mati hina di kayu salib. Semua itu dilakukan-Nya melulu hanya untuk menyelamatkan kita. Ia rela memasuki nasib hidup kita sementara di dunia, agar kita bersama dengan Dia diangkat kembali oleh Tuhan menjadi ahli waris surgawi.

    Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem telah tiga kali Yesus mengatakan kepada murid-murid pengikut-Nya, bahwa Ia akan menderita bahkan mati dalam melaksanakan tugas panggilan-Nya sebagai Almasih! Tetapi murid-murid-Nya itu tetap tidak menangkap apa yang ingin disampaikan Yesus kepada mereka. Bahkan dengan didampingi oleh ibu mereka, Yakobus dan Yohanes, yang kemudian akhirnya menjadi rasul-rasul Kristus, minta kepada Yesus untuk diberi kedudukan terhormat di sebelah kanan dan kiri Yesus.

    Ternyata latar belakang cara berpikir dan pandangan mereka tentang Kerajaan Allah yang mau didirikan oleh Yesus bersifat sangat duniawi, artinya egoistis dan materialistis. Padahal Kerajaan yang akan dibangun Yesus bukan dari dunia ini, seperti dipikirkan oleh Yakobus, Johannes dan murid-murid lain, tak terkecuali mungkin juga merupakan pikiran atau gambaran kita sekarang ini! Mereka sangat merindukan kedudukan yang mulia, terhormat dan berkuasa.

    Yesus dalam Injil Markus hari ini mau menerangkan apa yang di dalam Kerajaan Allah yang mau didirikan-Nya itu disebut berkuasa atau memiliki kuasa. Sudah lazim orang itu berpendirian, bahwa berkuasa berarti memiliki kuasa atau kekuatan untuk menguasai dan memaksa orang lain melakukan kehendaknya atau melayaninya. Orang lain diperintah sebagai hamba atau budak, dipaksa dan kedudukannya sebagai sesama manusia tidak dihormatinya.

  Menghadapi kenyataan yang dihadapi dalam masyarakat Yahudi di zaman-Nya itu Yesus berkata : "Janganlah kamu berbuat demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu" (Mrk 10:43).

   Menurut ajaran Yesus berkuasa dalam Kerajaan Allah bukan berarti memiliki kekuatan dan keinginan menguasai dan mengalahkan orang lain untuk kepentingan kehormatanya sendiri. Berkuasa atau memiliki kuasa berarti memiliki kemampuan dan kesediaan untuk memberikan dan membangun kekuatan kepada orang lain. Bukan memanfaatkan bahkan memeras daya dan kemampuan hidup sesama kita, tetapi justru sebaliknya menghidupkan dan menambahkan daya hidup sesama kita yang berkekurangan, supaya dapat hidup damai sejahtera. Berkuasa menurut ajaran Yesus berarti memiliki dan menggunakan kemampuan diri untuk ikut memberikan sumber hidup kepada orang lain. Berkuasa bukan berarti menggunakan orang lain hanya untuk kepentingannya sendiri.

    Kita semua ini sebagai orang kristiani telah menerima daya hidup yang berlimpah dari Yesus Penyelamat kita, khususnya dalam penerimaan sakramen-sakramen. Seperti para rasul dahulu, sekarang pun kita sebagai murid-murid Yesus juga terpanggil memiliki dan melaksanakan kuasa menurut teladan Yesus sendiri. Kita juga terpanggil ikut "berkuasa", tetapi dalam arti ikut memberikan daya hidup kita kepada sesama kita, secara rela dan cuma-cuma, bukan dengan perhitungan demi kepentingan pribadi sendiri.

    Kuasa seperti yang dimaksudkan Yesus itu dapat kita lihat dan kita pahami maknanya serta kita hayati dalam Ekaristi. Dalam Ekaristi kita menemukan pelaksanaan kuasa sejati yang asli dan murni. Menerima Ekaristi bukanlah menerima kuasa untuk makin mampu melemahkan dan merusakkan daya hidup orang lain, justru sebaliknya untuk menguatkan kerelaan dan kesediaan untuk membangun daya hidup sesama kita. Dalam Ekaristi, Yesus yang memiliki kuasa ilahi sepenuhnya merendahkan diri menjadi makanan sebagai sumber hidup ilahi kita yang berlimpah. Dalam Ekaristi terbukti, bahwa kerendahan hati dan kesediaan melayani kebutuhan orang lain, itulah perwujudan kebesaran dan kemuliaan kasih sejati di dalam Kerajaan Allah.

    Pesan Injil hari ini kepada kita ialah : berkuasa bukan berarti memerintah, melainkan melayani. Kita menerima Yesus dalam Ekaristi bukan hanya untuk kepentingan diri kita sendiri, bukan hanya untuk keselamatan pribadi, melainkan justru agar kita makin rela melayani sesama kita.

 

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/