Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

HARI MINGGU BIASA/XXV/2018

Keb 2:12.17-20; Yak 3:16-4:3; Mrk 9:30-37;

PENGANTAR
    Injil Markus untuk Hari Minggu ini mengemukakan dua hal penting ini. Pertama : Untuk kedua kalinya Yesus mengatakan kepada murid-murid-Nya, bahwa Ia akan menderita dan mati di Yerusalem. Kedua : Sementara murid-murid-Nya bertengkar tentang siapa menjadi terbesar di antara mereka, sebaliknya Yesus menegaskan bahwa barangsiapa ingin menjadi yang pertama akan menjadi yang terakhir. Dalam perayaan Ekaristi ini marilah kita menerima dan memahami kata-kata Yesus menurut nasihat surat Yakobus sebagai Bacaan Kitab Suci kedua.

HOMILI
    Isi pokok ajaran Yesus yang disampaikan kepada murid-murid-Nya, menurut Yakobus ialah bahwa sikap dasar kehidupan kita sebagai umat kristiani harus ditujukan kepada kepentingan sesama kita. Itulah kebijaksanaan Allah,yang disampaikan dan dilakukan oleh Yesus, seperti dipahami oleh Yakobus.

    Dalam Injil Markus untuk kedua kalinya Yesus menyatakan diri-Nya akan menderita dan mati. Reaksi murid-murid-Nya selalu negatif. Sebab ternyata pandangan mereka tentang kedudukan dan peranan mereka sebagai murid Yesus berlainan sama sekali. Mereka berdebat tentang siapa akan menjadi terbesar di antara mereka. Mereka bersaing untuk memperoleh posisi utama atau terbaik bersama Yesus. Ketika Yesus bertanya apa yang mereka perdebatkan dalam perjalanan mengikuti-Nya, mereka tidak berani menjawabnya!

    Maka Yesus memanggil murid-murid-Nya dan memberikan keterangan tentang apa tugas utama panggilan mereka sebagai pengikut-Nya. Yesus memberi nasihat kepada mereka supaya menjadi pelayan. Barangsiapa ingin menjadi penguasa yang berpengaruh, harus sanggup menjadi yang terakhir. Posisi yang terakhir ini disebut Yesus sebagai pelayan. Model pelayan sejati adalah Yesus sendiri, yang sebagai "Anak Manusia" datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani, dan memberikan hidup sebagai tebusan bagi banyak orang (Mrk 10:45). Dengan latar belakang inilah pula mengapa dalam Gereja Katolik, Paus sebagai wakil Kristus disebut servus servorum Dei, hamba segenap hamba Allah.

    Kata asli Yunani yang dipakai dalam Kitab Suci untuk pelayan adalah "diakonos" atau "diakon", dan tugasnya ialah melaksanakan pelayanan atau diakonia. Paulus menyebut dirinya sebagai pelayan Injil (Kol 1:23; Ef 3:7), atau sebagai pelayan umat, pelayan Gereja (Kol 1:25), bahkan sebagai pelayan Allah (2 Kor 6:4).

  Dengan tegas Yesus menegaskan bahwa Ia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani (Mrk 10:45; Mat 20:28) dan secara sepenuhnya, tanpa perhitungan! Sebab Ia melayani bukan untuk kepentingan-Nya sendiri, melainkan demi kepentingan orang lain. Dan syaratnya untuk membuktikan kesungguhan kerelaan pelayanan sejati diungkapkan oleh Yesus sebagai berikut : "Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya" (Yoh 9:35).

   Dengan ucapan-Nya itu Yesus mengubah total makna atau pengertian murid-muird-Nya tentang apa yang mereka lihat dan anggap sebagai kebesaran, kemuliaan, kebanggaan, kehebatan nama dan kedudukan orang dalam masyrakat! Yesus memberikan suatu pegangan atau ukuran lain, yang harus kita pakai untuk mencapai apa yang disebut sukses atau kegagalan, kemenangan atau kekalahan, keberhasilan atau ketidakberhasilan.

    Untuk menerangkan lebih lanjut ajaran-Nya yang sangat mendasar itu,Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah murid-muird-Nya. Maksud Yesus bukan pertama-tama untuk menunjukkan kenaifan, kemurnian atau kepolosan seorang anak, tetapi untuk menunjukkan status anak yang memang masih remaja, sebagai anak yang masih harus dibimbing, dan belum mempunyai hak-hak sepenuhnya! Dengan demikian Yesus mengemukakan suatu tata-hubungan antar manusia yang baru. Yesus mau mengatakan : "Apabila kamu menyambut anak kecil dalam nama-Ku, itu berarti kamu menyambut Aku. Dan menyambut Aku berarti menyambut Allah sendiri".

    Anak kecil adalah lambang atau gambaran orang yang tak berdaya, yang total tergantung dari orang lain dan harus ditolong. Injil hari ini menerangkan kepada kita, bahwa kita harus rela menyambut dan menolong orang-orang yang tak berdaya! Tetapi sekaligus Yesus menerangkan kepada kita, bahwa kita ini semuanya berada dalam keterbatasan kemampuan anak kecil itu juga di dalam diri kita msaing-masing! Yesus sendiri pun mengakui diri-Nya sebagai anak kecil terhadap Bapa-Nya. Yesus tidak menuntut hal-hal lain dari murid-muird-Nya. Ia hanya minta pengakuan dan kesadaran akan keterbatasan mereka seperti anak kecil terhadap bapanya.

    Apa pesan Injil Markus kepada kita? Ada kecenderungan dalam diri kita untuk menghormati dan memuji orang-orang yang memiliki jabatan, kuasa dan pengaruh besar. Dan sekaligus kita ingin diperhatikan serta diperhitungkan. Yakobus bersikap keras terhadap orang-orang yang melakukan tindakan dengan memandang muka (Yak 2:2-3). Murid-murid Yesus dahulu memang lemah, namun harus menjadi rasul-Nya. Nah, kita sekarang pun adalah murid-murid yang lemah, namun kita pun harus berani dan bersedia meniru Yakobus dan murid-murid Yesus lainnya sebagai cermin hidup bagi diri kita sekarang. Menurut Yakobus, kita sebagai murid Yesus membutuhkan suatu "kebijaksanaan hidup yang datang dari atas", bukan "dari bawah", yang disebutnya sebagai "hawa nafsu". Sebagai murid Yesus kita harus sanggup sebagai anak kecil untuk menerima "kebijaksanaan dari atas", yaitu ajaran dan teladan hidup dan perbuatan Yesus Kristus sendiri.

 

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/