Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

HARI MINGGU BIASA XXIII/B/2018

Yes 35:4-7a; Yak 2:1-5; Mrk 7:31-37;

PENGANTAR
    Dalam Perjanjian Lama Nabi Yesaya memberi hiburan kepada bangsa Israel, yang telah dibebaskan dari pembuangan mereka di Mesir. Ia menulis : "Telinga orang tuli akan dibuka, dan mulut orang bisu akan bersorak-sorai". Apa yang dinubuatkan Nabi Yesaya itu dalam Perjanjian Baru juga menjadi kenyataan seperti diceriterakan dalam Injil Markus pada hari ini : "Yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berbicara". Dalam perayaan Ekaristi ini marilah kita membuka telinga (pendengaran) kita untuk mendengarkan sabda Allah, dan menggerakkan lidah (mulut) kita untuk dapat meneruskan sabda Allah itu kepada orang lain.

HOMILI
    Orang-orang sakit yang disebut dalam Injil adalah orang-orang yang tidak mempunyai kondisi tubuh dan kemampuannya sebagai manusia yang utuh. Mereka adalah orang tuli dan orang bisu atau gagap. Keadaan atau status orang-orang sakit itu dipulihkan kembali oleh Yesus agar mereka memiliki kembali keadaan manusiawinya yang normal dan pantas.

    Apa sebenarnya yang ingin disampaikan Markus dalam Injilnya kepada kita dalam ceritera tentang penyembuhan tersebut? Mukjizat bukan dilakukan Yesus sekadar untuk menunjukkan kemampuan dan kekuasaan-Nya, melainkan sebagai suatu sarana untuk mewartakan dan melaksanakan Kabar Gembira, yakni keselamatan manusia se-utuhnya. Bukan hanya kelak, melainkan mulai sekarang dalam hidupnya.

    Injil hari ini berceritera tentang telinga dan tentang lidah. Pada umumnya dalam diri setiap orang, mata atau penglihatan berfungsi untuk menghubungkan diri kita dengan hal sehari-hari yang tampak, sedangkan telinga atau pendengaran menghubungkan diri kita dengan orang-orang lain. Dengan berbicara atau menyapa orang lain terjadilah hubungan pribadi antar orang yang satu dengan yang lain. Dengan mata kita dapat melihat apa yang tampak selama kita menghendakinya. Tetapi kita dapat juga menghentikan penglihatan itu menurut keinginan kita sendiri. Apabila kita membaca Kitab Suci, setiap kali kita dapat menutup mata kita dan berhenti membacanya. Tetapi lain halnya dengan telinga atau pendengaran kita. Bila tidak suka mendengar orang lain berbicara, kita tidak dapat menutup telinga kita begitu saja. Kita misalnya harus menutup telinga kita dengan tangan, atau kita harus meninggalkan ruang, di mana orang berbicara agar tidak mendengarnya. Betapa pentingnya dalam pergaulan antar manusia peranan kita untuk bersedia membuka pendengaran serta bersedia berbicara satu sama lain.

    Bila kita membaca Kitab Suci, sungguhkah kita mendengarkan apa yang dikatakan dalam KS itu? Kitab Suci sebenarnya minta kepada kita bukan untuk membaca, melainkan mendengarkan Sabda Allah. Harus ada orang lain yang membacanya, dan kita mendengarkan dan berusaha memahaminya. Mengapa? Secara alkitabiah iman kita tidak boleh bersifat individualistis, melainkan harus secara bersama, komunal, kominiter, sebagai kelompok, atau komunitas. Bila kita mau berbicara dan mendengarkan, maka dituntut agar orang-orang yang bersangkutan mau saling mendengarkan. Kesediaan saling menghormati dan saling menerima adalah syarat fundamental untuk suatu komunitas. Kesediaan ini makin berlaku dan mutlak dalam hubungan kita dengan Tuhan!

    Karena itu kalau ada orang yang tidak mau memenuhi syarat itu, satu-satunya yang dapat dilakukannya ialah meninggalkan tempat atau komunitas di mana ada orang berbicara, tetapi ia tidak mau mendengarkannya. Nah, inilah yang sering terjadi! Ada orang yang meninggalkan komunitasnya, mungkin itu Gereja, mungkin keluarganya atau mungkin kelompok kerjanya. Orang ini merasa mau berdiri sendiri, mau memimpin, ia mau supaya hanya kehendanyalah yang harus diikuti. Tak mau berhubungan dengan orang lain, tak mau mendengar pandangan orang lain. Hanya mendengarkan dirinya sendiri.

    Pada dasarnya sikap ini adalah individualisme, egoisme, kepentingan diri sendiri. Tidak komunikatif. Tidak mau berkomunikasi dengan sesama, juga bisa terjadi terhadap Allah. Padahal sikap dasar untuk mendengarkan sabda Allah dan mengikuti apa yang didengarkan dari sabda Allah maupun suara orang lain, ialah kesediaan diri untuk mengakui otoritas Allah, tetapi disamping itu juga mengakui martabat sesama manusia di hadapan Allah.

    Penyakit tuli atau bisu yang diceriterakan dalam Injil hari ini adalah penyakit fisik, yang memang harus disembuhkan. Tetapi Injil hari ini mau juga menun-jukkan kepada kita adanya penyakit tuli dan bisu rohani, spirtitual atau batin!

    Kita bersyukur kepada Tuhan atas terus berkembangnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknik dewasa ini, antara lain juga di bidang komunikasi. Alat-alat teknis komunikasi sungguh dibutuhkan dan sangat menolong. Namun benda-benda itu tergantung keberhasilannya, bahkan juga kegagalannya dari manusia-manusia yang menggunakannya. Betapapun tingginya kualitas alat teknis komunikasi itu, tetapi apabila kualitasnya sebagai pribadi manusia yang batiniah, rohaniah justru tuli dan bisu, maka apakah makna alat-alat modern itu semuanya?

    Pesan Injil hari ini ialah,bahwa kita diajak menjaga, agar pendengaran dan kemampuan kita untuk bergaul dan menyapa pribadi orang lain sebaik mungkin, dalam keadaannya masing-masing secara manusiawi, sebab martabat mereka sama seperti kita di depan Allah. Jangan sampai kita terkena penyakit tuli dan bisu rohani. Kita harus selalu bersikap peka terhadap orang lain seperti Yesus.

 

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/