Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

HARI MINGGU BIASA XXII/B/2018

Ul 4:1-2,6-8; Yak 1:17-18, 21b-22, 27; Mrk 7:1-8, 14-15, 21-23;

PENGANTAR
    Kita semua berhimpun bersama di rumah Tuhan untuk beribadat sambil mendengarkan sabda Tuhan. Ketiga bacaan hari ini (Kitab Ulangan, Surat Jakobus dan Injil Markus) menegaskan kepada kita bahwa ibadat lahiriah melulu, apapun bentuknya tidak berkenan kepada Tuhan, bila tidak keluar dari hati kita yang murni. Tuhan menghendaki agar kita menyembah dan mengabdi kepada-Nya setulus hati. Kita diminta agar dalam sikap, kata dan perbuatan kita di depan Allah dan sesama kita, harus selalu berusaha berpegang pada keadilan dan kasih, baik lahiriah maupun batiniah, seperti diajarkan dalam Kitab Suci.

HOMILI
    Kaum Farisi dan ahli Taurat mencela beberapa orang murid Yesus, yang makan dengan tangan najis, artinya tidak mencuci tangannya dahulu. Padahal itu sudah merupakan adat kebiasaan orang Yahudi, yang bahkan karena fanatisme kaum Farisi kebiasaan itu dimutlakkan menjadi peraturan. Peraturan itu menurut hukum Taurat hanya berlaku bagi para imam, yaitu membasuh tangan dan kakinya sebelum memasuki Kemah Pertemuan, rumah ibadat, untuk memper-sembahkan kurban (lih. Kel 30:20-21; 40:12. 30-32). Meskipun sebenarnya hanya khusus untuk para imam, namun kemudian terutama atas pengaruh kaum Farisi, peraturan itu dikenakan juga untuk orang-orang yang mau mengaku diri sebagai orang Israel. Tetapi tidak semua orang Yahudi melaksanakannya. Menurut peraturannya orang tidak boleh makan sebelum membasuh tangan dahulu. Peraturan ini memang tidak terdapat di dalam hukum Taurat, lebih bersifat sebagai adat istiadat, namun diberi otoritas hukum, sebagai peninggalan Musa, sehingga kebiasaan pembasuhan tangan sebelum makan dianggap sebagai tindakan ritual. Karena itulah mereka bertanya kepada Yesus : "Mengapa murid-murid-Mu tidak mematuhi adat-istiadat nenek moyang kita? Mengapa mereka makan dengan tangan najis?"

    Ternyata jawaban Yesus sangat berbeda dengan apa yang mereka tanyakan. Yesus menjawab dengan mengutip kata-kata nabi Yesaya : "Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis : Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku,sebab ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat-istiadat manusia". Isi pokok kritik Yesus kepada orang-orang munafik ialah, bahwa mereka meninggalkan perintah Allah demi adat istiadat manusia.

    Yesus sama sekali menolak adanya adat istiadat manusia yang baik. Tetapi Yesus mau merombak secara radikal makna tahir dan najis, dan menunjukkan makna peraturan atau hukum yang sebenarnya. Bagi Yesus hal-hal eksternal atau lahiriah tidak menajiskan orang, sedangkan segala sesuatu yang datang dari dalam diri seseorang, yaitu dari hatinya, itulah yang menajiskan, yaitu pikiran, kata-kata dan perbuatan yang jahat.

    Dari dalam hati manusia timbullah pikiran dan maksud penuh dosa yang memisahkannya dari Allah. Yesus menyebut beberapa contoh : pikiran jahat, pencabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan. Hal-hal inilah yang timbul dari dalam hati manusia dan menajiskan dirinya! Yesus mau menegaskan, bahwa masalah najis bukanlah hal ritual, melainkan hal moral. Bukan makanan yang dilarang, melainkan pikiran dan maksud yang jahat! Jadi yang membuat kita najis menurut Yesus bukan terletak di luar diri kita, melainkan di dalam diri kita masing-masing.

    Bila demikian, apa yang patut kita ketahui, sadari dan laksanakan untuk hidup sambil beragama sesuai dengan ajaran Kristus? Manusia sebaiknya memang beragama, agar supaya dapat hidup sesuai dengan kehendak Allah, yang telah menciptakannya. Untuk menolong menghayati hidup beragamanya itu dengan baik, diadakan peraturan, perintah, hukum seperti sarana atau penujuk jalan, bukan sebagai tujuan. Namun sadar atau tidak sadar ada kecenderungan untuk melaksanakannya demi peraturan itu saja, bukan untuk berusaha mencapai tujuannya. Inilah yang menurut Injil terjadi pada diri kaum Farisi dan ahli-ahli Taurat, yang dikecam Yesus habis-habisan. Sebab mereka mengutamakan peraturan Taurat tentang ritual pembersihan tangan yang lahiriah, tetapi mengabaikan tujuan dan semangat hukum Taurat yang sebenarnya, ialah keadilan dan kasih.

    Apa gerangan yang selalu, tetapi terutama di zaman kita sekarang ini, yang harus dan dapat kita lakukan menurut Kitab Suci, khususnya perintah Yesus sendiri? Tak lain tak bukan, ialah mendengarkan perintah-Nya dan melakukan apa yang telah dilakukan-Nya sendiri. Isi pokok hukum Taurat yang sebenarnya menurut ajaran-Nya adalah keadilan dan cinta kasih. Yesus sendiri telah melanggar peraturan atau hukum tahir/najis, ketika Ia mengulurkan tangan-Nya dan menyentuh orang yang menderita penyakit kusta (Mrk 1:41). Ia membiarkan wanita yang menderita pendaharan menyentuh-Nya (Mrk 5:27-28). Dan memegang tangan seorang gadis yang telah meninggal (Mrk 5:41). Dari apa yang dilakukan Yesus itu membuktikan peraturan tahir/najis tidak pernah dimaksudkan untuk melarang keadilan dan cinta kasih. Sebaliknya, ketika Ia menyentuh hal-hal yang najis, Ia malahan membuat orang yang najis itu menjadi murni, bersih tahir.

    Marilah kita berusaha, agar dalam menghayati hidup beragama kita tahu dan menyadari makna peraturan ritual, hukum agama, bahkan pelaksanaannya, yang harus menolong kita agar berkenan kepada-Nya, justru menjauhkan diri dari pada-Nya, karena melanggar hubungan kita satu sama lain dengan melanggar keadilan dan cintakasih.

 

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/