Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

Hari Minggu Biasa XIII A/2017

2Raj. 4:8-11,14-16a; Rm. 6:3-4,8-11; Mat. 10:37-42;

PENGANTAR
    Injil Matius yang hari ini disampaikan kepada kita, yakni Mat 10:37-42, adalah suatu bagian dari Injil Matius Bab 10 seluruhnya, yang memberitakan peristiwa tentang Yesus yang mengutus murid-murid-Nya, dan disertai dengan gambaran tentang situasi dan kondisi masyarakat yang akan mereka hadapi. Sekaligus Yesus menyampaikan syarat-syarat mutlak, yang harus mereka penuhi agar dapat melaksanakan tugas panggilan mereka dengan baik.

HOMILI
    Yesus Kristus telah datang sebagai Penebus utusan Allah Bapa untuk menyelamatkan umat manusia. Ia telah melaksanakan tugas perutusan-Nya dengan setia sampai akhir. Tetapi hasil karya penebusan-Nya itu, ketika Ia kembali kepada Bapa-Nya, harus ditentukan pelaksanaannya oleh segenap murid-Nya sepanjang segala zaman. Dalam injil hari ini, Yesus secara pendek, namun jelas serta tegas, telah menyampaikan syarat-syarat, yang harus dipenuhi oleh siapapun, yang ingin menjadi murid-Nya yang sejati dalam melaksanakan perjalanan hidup dan tugas panggilannya.

    Yesus menuntut agar setiap murid yang ingin mengikuti diri-Nya harus lebih mengasihi Dia dari pada orang tua atau bapa ibunya, putera-puterinya, bahkan nyawanya sendiri. Tuntutan Yesus tersebut ternyata menimbulkan banyak reaksi atau tanggapan negatif dari murid-muridNya. Misalnya Yohanes dalam Injil-Nya, yang bercerita tentang perintah-perintah Yesus, mencatat reaksi murid-murid-Nya ini: "Perkataan ini keras,siapakah yang sanggup mendengarkannya?" (Yoh 6:60).

    Keberatan dan kesulitan yang dihadapi murid-murid Yesus tersebut sebenarnya bisa dimengerti. Bukankah kasih kepada orang tua, kepada anak-anak, dan kasih timbal balik isteri, ya bahkan kasih setiap orang kepada jiwa ataau nyawanya sendiri justru merupakan perintah utama, yang diajarkan Yesus kepada kita?

    Namun dari segi lain, seperti juga ditegaskan oleh Yohanes dan injilnya, Allah adalah kasih. Dan justru dalam kasih-Nya itulah Yesus tiddak mau memaksakan kasih-Nya kepada kita manusia ini. Sebab Allah menghargai kebebasan kehendak manusia ciptaan-Nya itu. Ia lebih menawarkan kasih-Nya itu kepada kita. Demikianlah Allah memberikan kesempatan kepada kita umat-Nya melalui Yesus Kristus, untuk setiap kali mengadakan suatu pemilihan, prioritas, dan keputusan. Suatu pemilihan atau prioritas itu sangat mendasar untuk menentukan hidup kita, baik untuk hidup kita sekarang ini maupun untuk hidup kekal kelak. Pemilihan atau prioritas manakah yang harus ditentukan? yaitu memilih keinginan dan keterikatan akan kepentingan diri kita sendiri, ataukah lebih memilih loyalitas / kesetiaan / ketaatan kepada perintah Kristus. Kebebasan kehendak di suatupihak, danketaatan (kesetiaan, loyalitas) di lain pihak merupakan dua faktor di dalam kehidupan dan perbuatan setiap orang, yang harus diperhatikan, dilakukan, dan dipertanggung jawabkan kepada Allah.

    Secara kongkret, Yesus tidak akan secara otomatis menjamin, bahwa tidak ada konflik atau pertentangan, baik dalam hubungan antara suami dan isteri, maupun antara orang tua dan anak, atau antara sesama manusia dalam pergaulan dana pekerjaan dalam masyarakat. Manusia sendirilah yang harus memutuskan. Tetapi kerelaan untuk setia, taat dan loyal kepada ajaran, pesan ataupun perintah Kristus harus selalu dipegang teguh. Sebab perintah-Nya itulah yang dapat menolong mengatasi konflik tersebut. Ajaran Yesus bukan menentang keluarga sebagai keluarga, melainkan bahwa murid-murid Yesus harus mempunyai loyalitas yang lebih besar kepada Yesus daripada terhadap anggota keluarga mereka. Apabila adalah situasi dan kondisi yang ekstrem, dan harus memilih antara Yesus dan keluarga, Yesus menuntut loyalitas mutlak kepada diri-Nya.

    Apa yang disampaikan Yesus kepada murid-murid-Nya itu disertai dengan teladan-Nya sendiri, yaitu dalam menghadapi salib. Ucapan-Nya tentang salib yang harus dipikul-Nya sendiri, dan tentang orang yang akan kehilangan nyawanya karena Dia, semua itu mencerminkan nasib Yesus sendiri sebagai teladan. Yaitu teladan loyalitas kepada Allah yang mahakasih.

    Akhirnya pada akhir Injil Matius hari ini Yesus mengingatkan dan memberi hati kepada murid-murid-Nya. Ditegaskan-Nya bahwa murid-murid itu tampil sebagai wakil Kristus bila orang menerima mereka, berarti menerima Kristus. Tetapi mereka itu sebenarnya bukan hanya menerima Kristus saja, melainkan juga menerima Bapa-Nya di surga! Betapa besar anugerah Allah yang diberikan kepada murid-murid Kristus, yang selalu taat, setia, loyal terhadap kehendak Allah, masing-masing dalam situasi dan kondisinya sendiri, menurut teladan Yesus Kristus Putera-Nya.

 

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/