Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

HARI MINGGU ADVEN III/C/2018

Yes 3:14-18a; Fil 4:4-7; Luk 3:10-18;

PENGANTAR
    Di tengah perjalanan masa Adven sambil mendekati perayaan Natal, Gereja mengajak segenap umatnya untuk bersukacita. Kedua bacaan Kitab Suci hari ini berisi seruan untuk bersukacita. Dan dalam Injil hari ini kita mendengarkan Yohanes Pembaptis, yang menegaskan bahwa kita, apabila mau bersukacita merayakan Pesta Natal dengan sungguh-sungguh, maka kita diminta oleh Yohanes Pembaptis untuk sungguh mempersiapkan diri, yakni bersedia untuk membaharui diri.

HOMILI
    Pada waktu itu Yohanes Pembaptis di depan masyarakat sezamannya mengajak untuk bertobat. Orang-orang yang berkehendak baik datang kepadanya untuk mendengarkan seruannya. Dan karena terkena hatinya, mereka bertanya : "Apakah yang harus kami perbuat?" (Luk 3:10). Mereka itu adalah kelompok orang-orang dari masyarakat yang penting dan besar peranannya : orang-orang yang cukup miliknya, pemungut cukai, dan tentara. Jawaban Yohanes kepada mereka itu sederhana dan jelas : "Barangsiapa mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya". Artinya orang yang bercukupan dianjurkan berbagi kelebihannya dengan orang lain. Dan kepada pemungut cukai : "Jangan menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu". Artinya, orang yang berhak menarik cukai atau pajak ataupun keuntungan, hendaknya berlaku jujur. Dan bagi mereka yang berkuasa, memiliki senjata dan kekuatan : "Jangan merampas, jangan memeras, dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu". Singkatnya : janganlah bertindak dengan kekerasan!

    Bahasa yang dipakai Yohanes Pembaptis untuk zamannya itu mungkin kurang sedap digunakan sekarang ini. Namun isinya, yakni apa yang dimaksudkan Yohanes itu sekarang pun tetap perlu dan urgen dijadikan pegangan untuk berpikir dan berbuat secara tepat dan benar. Memang masing-masing menurut tujuan kedudukan dan kekuasaannya yang sebenarnya. Sebab apa yang diserukan oleh Yohanes Pembaptis itu adalah prinsip pengertian moral yang berlaku di mana dan kapan pun. Misalnya, kelebihan material/harta benda yang dimiliki menuntut suatu kerelaan untuk mengamalkan atau membagikannya kepada orang lain, bukan untuk disimpan atau ditimbun untuk kepentingan diri sendiri belaka.

    Sikap moral dasar yang dimaksudkan Yohanes Pembaptis itu bukan-lah sesuatu yang dapat dimiliki setiap orang dengan mudah. Dibutuhkan suatu pertobatan. Kepada orang-orang Yahudi waktu itu Yohanes berkata : "Hasilkanlah buah-buah yang sesuai dengan pertobatan. Dan janganlah berpikir dalam hatimu: Abraham adalah bapa kami!". Tidak otomatis bahwa orang Yahudi karena ia keturunan Abraham adalah dengan sendirinya baik. Bukan pula dengan sendirinya, bahwa orang yang sudah dibaptis dan resmi menjadi pengikut Kristus adalah orang yang sungguh kristiani!

    Yohanes Pembaptis sendiri pun pergi ke padang gurun untuk menemukan dirinya sendiri. Ia membutuhkan pertolongan Allah dalam kete-nangan batin. Demikian kita pun, khususnya menjelang menyambut keda-tangan Yesus sebagai Penyelamat, kita harus sanggup menyediakan kesem-patan untuk meninggalkan kesibukan dan kebisingan aneka keinginan dan kepentingan kita sendiri, untuk memperbaiki diri. Kita harus sungguh menyediakan waktu untuk mendengarkan sabda Allah dalam hati kita.

  Hanya bila kita sungguh serius ingin menyambut kedatangan Yesus sebagai Penyelamat, kita harus bertanya : "Apa yang harus kulakukan?" Jawabannya ialah: Kita harus belajar mengubah diri! Artinya, kita harus sungguh belajar memperhatikan sesama kita, belajar bersikap dan berbuat adil dan benar, lurus dan jujur! Bila itulah yang kita lakukan, maka itu berarti kita sungguh mendengarkan sabda Allah. Itu berarti juga rahmat Allah bekerja di dalam hati kita. Itu berati Allah secara nyata meluruskan jalan hidup kita. Kesadaran moral yang hidup dalam hati kita akan menyingkirkan kecenderungan kita untuk main kuasa, main curang, berbalas dendam, benci dan serakah. Bila itu yang kita usahakan untuk menghilangkannya, maka kata-kata Yohanes yang sederhana menjadi jelas bagi kita, misalnya: memberikan sehelai dari dua helai baju yang kita miliki kepada orang yang tak mempunyainya.

   Gereja mengajak kita bersukacita menjelang Natal? Tetapi apakah sukacita yang sesungguhnya! Sukacita itu hanya kita miliki apabila kita sungguh dibebaskan dari beban egoisme yang memenuhi hati kita. Betapa besar sukacita kita, apabila hati kita kosong dari egoisme sebagai penghambat dan penghalang kedatangan Yesus ke dalam hati kita. Yesus memilih lahir di palungan sederhana di Betlehem. Apakah kita sendiri sekarang juga ingin seperti Yesus lahir kembali di Betlehem, yaitu di dalam hati setiap orang, yang sederhana dan membutuhkan dirinya diselamatkan dan bersukacita? Bersukacitalah manusia yang mengubah hatinya menjadi murni dan sederhana, untuk menjadi tempat kediaman sejati Imanuel, Tuhan beserta kita.

 

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/