Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

HARI MINGGU ADVEN III/A/2019

Yes 35:1-6a; Yak 5:7-10; Mat 11:2-11;

PENGANTAR
    Dahulu secara klasik pada pembukaan perayaan Ekaristi di masa Adven III/A diucapkan atau dinyanyikan suatu Antifon yang berseru : "Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan". Dan dalam Bacaan I Nabi Yesaya mengajak umat Israel bersukaria. Kemudian dalam Bacaan II Yakobus berkata : "Teguhkanlah hatimu karena kedatangan Tuhan sudah dekat." Akhirnya Injil Matius pada hari ini menceriterakan ketidakpastian Yohanes Pemandi mengenai kesungguhan Yesus sebagai Almasih yang sudah datang. Marilah kita mendengarkan beberapa sabda Allah itu untuk mencoba memahami dan menyadari sendiri, bahwa keragu-raguan yang dihadapi Yohanes sekarang pun dapat merupakan masalah bagi kita sendiri juga.

HOMILI
    Matius dalam Injilnya Bab 1-10 secara berturut-turut menyampaikan apa yang telah diajarkan dan dilakukan oleh Yesus. Dan baru dalam Bab 11 ia berceritera tentang keragu-raguan Yohanes Pemandi yang ada di penjara tentang Yesus, yang sudah berbuat baik begitu banyak. Padahal Johannes sendiri adalah pribadi yang diutus mendahului dan menyiapkan kedatangan Yesus sebagai Almasih. Johannes sendiri itu juga berbuat baik dan berani mengatakan apa yang benar, sampai dimasukkan ke dalam penjara. Mengalami nasibnya itulah ia mengutus murid-muridnya kepada Yesus untuk bertanya : "Apakah Engkau yang memang akan datang itu, atau haruskah kami menantikan yang lain?"

    Kita dapat bertanya kepada diri kita sendiri: dalam Injil itu siapakah sebenarnya yang masih ragu-ragu dan tidak pasti tentang Yesus sebagai Almasih yang dinanti-nantikan itu? Murid-murid Yohanes ataukah justru Yohanes sendiri? Johanes sendiri seolah-olah ragu-ragu dan berpikir demikian : "Aku harus sudah menyiapkan kedatangan Yesus sebagai Almasih, dan itu telah kulaksanakan. Yesus itu telah menyembuhkan orang sakit dan mengusir setan, dan banyak hal lain. Tetapi mengapa aku sendiri yang telah menyiapkan kedatangan-Nya tidak ditolong-Nya juga untuk dikeluarkan dari penjara? Padahal aku telah mengatakan apa yang benar dan menolak apa yang jahat." Ataukah sebaliknya yakni Yohanes mau meyakinkan murid-muridnya, supaya mereka lebih percaya dan makin mantap keyakinannya, bahwa Yesus adalah sungguh Almasih yang dinanti-nantikan. Maka Yohanes menyuruh mereka bertanya kepada Yesus sendiri, supaya mereka sungguh yakin bahwa Ia adalah Almasih.

    Sebenarnya tidak penting bagi kita mengetahui apakah Yohanes Pemandi sendiri atau murid-muridnya yang ragu-ragu tentang Yesus sebagai Penyelamat. Yang harus lebih kita ketahui dan sadari sendiri ialah tetap adanya keraguan-raguan atau ketidakpastian dalam diri kita sebagai manusia, yang seringkali ragu-ragu. Mengapa? Karena hal nyata yang kita ketahui atau kita lihat tidak sama dengan apa yang kita harapkan atau inginkan! Mengapa Yesus dahulu sebagai Penyelamat tidak atau belum menolong atau menyelamatkan semua orang dari kesukaran dan penderitaan mereka. Mengapa Johannes tidak segera ditolong dan diselamatkan? Itulah yang menyebabkan keragu-raguan Johannes dan murid-muridnya. Itulah juga masalah yang seringkali kita alami. Mengapa apa yang baik yang kita inginkan tidak dikabulkan oleh Tuhan. Mengapa Tuhan tidak langsung menolong atau menyelamatkan kita. Sepintas lalu masalah kita itu bisa dipahami. Mengapa?

    Sekarang ini, dua puluh abad sesudah Yesus dan Yohanes Pemandi, kita hidup di dalam masyarakat yang sungguh berbeda. Dunia kita makin terus maju, makin tampak daya kemampuannya sendiri, dan banyak adanya penemuan baru yang memang patut dikagumi. Akibatnya rasa dan sikap ketergantungan manusia pada Allah makin berkurang. Iman kita bukan berupa sebagai sikap dasar hati kita, yang penuh keyakinan kepada Tuhan, melainkan hanya sebagai pengetahuan. Karena kemajuan teknologi dan penggunaan sistem kerja secara digital, yang serba cepat serta lebih efektif / efisien sekarang ini, keragu-raguan dan ketidakpastian kepercayaan akan kehadiran Allah dalam diri kita lebih besar dari pada bagi orang-orang Yahudi di zaman Yesus dan Yohanes Pemandi! Sebab waktu itu mereka melihat sendiri apa yang bisa dilakukan Yesus. Meskipun demikian mereka masih ragu-ragu. Mengapa? Karena orang-orang Yahudi mempunyai gambaran tentang Almasih yang lain dan berbeda dengan apa yang diajarkan dan dilakukan Yesus. Hal-hal yang dilakukan Yesus mereka dapat melihatnya, tetapi karena tidak merasakannya sendiri, mereka meragukannya dan tidak percaya.

    Bagi kita sekarang ini lebih berat untuk mau sungguh percaya kepada Yesus sebagai Penyelamat kita dalam arti yang sebenarnya. Sebab kita tidak langsung mendengarkan dan melihat Yesus sendiri. Kita percaya kepada Yesus sebagai Penyelamat melalui kesaksaian murid-murid / rasul-rasul Yesus, yang terdapat dalam Kitab Suci dan dalam Tradisi Gereja, yang terus dan tetap berjalan abad demi abad. Meskipun cara perkenalan dan perjumpaan kita dengan Yesus berbeda dengan Johannes Pemandi dan murid-muridnya, namun Pribadi Yesus sendiri adalah selalu satu dan sama.

    Menghadapi keragu-raguan dalam iman, apakah yang harus kita perhatikan dan lakukan? Dalam kesatuan Gereja kita harus sungguh percaya kepada Yesus Kristus, seperti disampaikan oleh para Rasul abad demi abad sampai sekarang. Percaya berati sungguh mau bersatu dengan Kristus. Bukan kehendak kita sendiri, tetapi kehendak Kristuslah yang harus kita ikuti. Kristus akan memberikan yang terbaik bagi kita, bukan yang terbaik menurut kemauan dan keinginan kita sendiri.

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/