Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

HARI JUMAT AGUNG 2019 MENGENANGKAN SENGSARA DAN WAFAT TUHAN

Yes 52:13-53:12; Ibr 4:14-16; 5:7-9; Yoh 18:1-19:42;

PENGANTAR
    Pada tgl 1 Mei 1984 Paus Yohanes Paulus II, yang tgl. 1 Mei 2011 Ia akan diresmikan sebagai Beato, menulis suatu surat apostolik yang berjudul "Salvifici doloris" (penderitaan yang menyelamatkan), yang menerangkan makna kristiani penderitaan yang kita alami sebagai manusia. Kita baru saja mendengarkan kisah sengsara Tuhan Yesus. Paus Yohanes Paulus II, yang sekarang sudah menjadi Santo menerangkan, bahwa dalam penderitaan-Nya Kristus menghayati solidaritas-Nya yang total dengan kita manusia. Dalam penderitaan itu kita dapat berbagi solidaritas kita dengan Kristus. Kristus adalah Hidup kita!

HOMILI
    Penderitaan yang dipikul Kristus adalah akibat dosa kita, tetapi Ia bersedia memikul akibatnya itu, dan bukan hanya membiarkan apalagi menghindarinya! Dengan memikul penderitaan dan kematian sepenuhnya, Ia menerima akibat dosa manusia dan menanggungnya. Yesus melakukan itu melulu atas dasar kasih-Nya kepada kita. Bukan karena Ia hanya sekadar mau menebus kita, melainkan karena Ia ingin menjadi satu, bersatu dengan kita. Ia mau mengambil bagian, saling berbagi dengan kita manusia, dan ikut mengalami apa yang kita alami! Nah, dengan berbagi kasih, berbagi dan ambil bagian dalam penderitaan dalam kasih inilah, Yesus memulihkan kembali hubungan kita sebagai manusia dengan Allah yang telah hilang karena dosa. Itulah makna penebusan kita!

    Paus Yohanes Paulus II menegaskan, bahwa makna penderitaan telah total berubah secara mendasar berkat adanya inkarnasi, yaitu bahwa Allah menjadi manusia. Apabila tidak ada inkarnasi itu, penderitaan kita adalah akibat dosa. Sebab apabila tidak ada inkarnasi, artinya lepas dari Kristus, maka hubungan dan kasih kita kepada sesama kita hanyalah ada menurut pandangan dan keinginan kita sendiri. Tetapi bila kita sadar bahwa ada inkarnasi, bahwa Allah menjadi manusia seperti kita dalam diri Yesus Kristus, maka kita akan melihat dan melaksanakan kasih kita dalam kesatuan dan solidaritas kita sebagai anggota Tubuh Kristus yang satu! Karena kita menjadi bagian dari Tubuh Kristus, maka kita berbagi dalam kebahagiaan maupun dalam penderitaan kita sendiri dan sesama selalu bersama juga dengan Kristus! Maka penderitaan yang harus kita alami dan kita pikul merupakan ungkapan penebusan kita oleh dan bersama Kristus. Sebab penderitaan kita menjadi penderitaan Kristus sendiri dan dengan demikian menjadi penebusan kita!

    Apa yang diterangkan oleh Paus Paulus Yohanes II itu, selama sepanjang hidupnya dialaminya sendiri juga. Terutama dalam waktu akhir hidupnya sebagai Pemimpin jutaan umat Katolik di seluruh dunia ini, beliau mengalami penderitaan luar biasa. Tidak lama sesudah terpilih menjadi Paus, beliau mau ditembak mati dan harus menderita cukup lama. Ia memimpin perjalanan Gereja selama 26 tahun, dengan tabah dan menun-jukkan kekuatan luarbiasa. Terutama ketika mulai menjalani masa usia lan-jutnya Yohanes Paulus II harus banyak menderita. Mulai 1994 kelemahan dan penderitaan fisiknya sangat terasa, sehingga beliau berkata: "Aku kini harus meminpin Gereja dengan penderitaan. Paus harus menderita, sehingga setiap keluarga dan dunia ini harus mengerti, atau dapat dikatakan, bahwa ada Injil yang lebih tinggi, yaitu Injil penderitaan. Kita harus mempersiapkan masa depan dengan penderitaan".

    Paus Paulus Yohanes II, selama sisa tahun-tahun kepemimpinan Gereja, tidak takut maupun ragu-ragu menunjukkan kepada kita dan dunia ini segala keterbatasan dan kelemahannya yang dihadapinya. Yesus yang diberi kuasa Allah telah mengalahkan setan, memberi makan kepada orang banyak, mengusai alam, menyembuhkan orang sakit bahkan membangkitkan kembali orang mati. Tetapi Ia sendiripun menujukkan keterbatasan dan kelemahan-Nya. Ia menderita dan mati! Yohanes Paulus II menegaskan: manusia diciptakan Allah untuk hidup, sebab maut bukan merupakan bagian dari rencana-Nya, tetapi maut datang yang disebabkan oleh dosa. Namun akibat dosa manusia, yakni dosa kita semua ini, ternyata diambil alih, diterima dan ditanggung oleh Yesus sendiri! Yesus di kayu salib adalah sinar kasih Allah, sebagai Bapa kita, yang tak akan pernah pudar!

    Tahun 2005 untuk terakhir kalinya Paus Yohanes Paulus II dalam keadaan sakit mengikuti jalan salib di Coliseum di Roma lewat TV. Ketika tiba pada stasi di mana diserukan : "Yesus mati di salib", Paus memeluk salib yang ditempatkan di hadapannya. Itulah ungkapan hidup dan karya Paus sebagai Wakil Yesus.

    Beberapa jam sebelum wafat, Paul Yohanes Paulus II mengucapkan kata-kata ini : "Biarkanlah aku pergi ke rumah Bapa". Paus Yohanes Paulus II, Wakil Kristus yang wafat tanggal 2 April 2005 jam 09.37 itu akhirnya pada tanggal 1 Mei 2011 diangkat menjadi Beato. Beliau meninggalkan pesan tetapi terutama teladan, bahwa menanggung penderitaan dan kematian seperti Kristus adalah balasan kasih kita kepada-Nya sebagai murid-Nya yang sejati. Dan akhirnya pada tanggal 27 April 2014 Paus Fransiskus menganonisasikan atau mengangkat Paus Yohanes Paulus II menjadi Santo. Ternyata penderitaan dapat membuat kita menjadi kudus!

    

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/