Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

MINGGU BIASA XXIII/A/2011

Yeh 33:7-9  Rm 13:8-10  Mat 18:15-20

PENGANTAR
          Injil Matius hari ini (Mat 18:15-20) menunjukkan kepada kita begitu pentingnya kesediaan semua anggota komunitas yaitu Gereja, untuk saling memaafkan. Ditekankan pula perlunya saling menegur (correptio fraterna) bila berdosa, tetapi juga tak terlupakan keharusan berdoa (ay. 19-20). Dalam ayat-ayat Injil Matius, yang tidak terdapat dalam bacaan Injil hari ini itu, tetapi akan kita dengarkan Minggu depan (Minggu XXIV), Yesus akan menunjukkan bagaimana kita sebagai persekutuan Gereja harus dapat saling hidup sebagai saudara satu sama lain, yang saling mengampuni.

HOMILI
          Dua Minggu yang lalu (Minggu XXI) Injil Matius berceritera, bahwa kepada Petrus diserahkan kunci Kerajaan Surga. Artinya Petrus diserahi kuasa untuk membuka atau menutup, atau dengan kata lain melepaskan atau tetap mengikat ikatan dosa, yang menghalangi manusia menerima hidup kekal. Nah, dalam Injil hari ini kita mendengarkan Yesus juga menyerahkan kepada semua murid-murid-Nya apa yang sebelumnya diberikan kepada Petrus.

          Pada dasarnya dalam Injil ini kita menemukan ajaran Gereka tentang pertobatan dan rekonsiliasi atau pengampunan. Menurut ajaran agama (katekismus) katolik, dosa pertama-tama adalah pelanggaran kehendak Allah. Artinya suatu pemutusan hubungan dengan Allah. Bukan hanya itu! Tanpa disadaril, dosa sekaligus juga merugikan hubungan/relasinya dengan Gereja. Karena itu penyesalan/pertobatan mengandung pengampunan oleh Allah dan rekonsiliasi dengan Gereja. Nah, semuanya itu terungkap secara liturgis dalam sakramen pengampunan dan rekonsiliasi. Hanya Allah yang dapat mengampuni dosa kita. Karena Ia adalah Putera Allah, maka Yesus menyebut diri-Nya “Putera manusia mempunyai kuasa di dunia mengampuni dosa”, dan dapat melaksanakannya dengan kekuatan ilahi. Maka Ia berkata: “Dosamu sudah diampuni” (lih. Katekismus Gereja Katolik = KGK no. 1441).

          Kuasa yang diberikan Yesus kepada Petrus ialah untuk “melepaskan” dan “mengikat” suatu ikatan hubungan dengan Allah dan sesama. “Kata-kata mengikat dan melepaskan berarti: siapa pun yang akan kamu kucilkan dari persekutuan, maka Allah pun akan mengucilkannya dari persekutuan dengan diri-Nya; siapa pun yang akan kamu terima kembali dalam persekutuanmu, maka Allah pun akan menerimanya kembali dalam persekutuann dengan diri-Nya. Perdamaian dengan Gereja tidak dapat dipisahkan dari perdamaian dengan Allah” (KGK no.1445). Kuasa yang diberikan Yesus kepada Petrus juga diberikan kepada dewan para rasul, di mana Yesus adalah Kepala-Nya, dan selanjutnya juga kepada para imam. Sebab Yesus mengadakan sakramen pengampunan guna menolong warga-warga Gereja yang berdosa. Khususnya bagi mereka, yang sejak permandiannya telah jatuh ke dalam dosa berat, dan karenanya kehilangan rahmat baptisannya dan terluka dalam persekutuannya dengan Gereja (KGK no.1446).

          Namun patut diketahui, bahwa mengampuni atau memaafkan dosa atau kesalahan bukanlah sekadar melupakan apa yang telah dilakukan terhadap kita. Ibaratnya: “yang sudah terjadi sudahlah kulupakan, itu sudah lewat”! Bukan hanya itu! Memaafkan/mengampuni secara benar berarti, bahwa kita harus mau dan bertekad tetap maju ke depan untuk berkembang. Sebab bila kita tetap membiarkan diri menyimpan kemarahan atau sakit hati kita, maka kita akan dilumpuhkan oleh kejahatan yang telah kita alami. Bila sikap tak mau mengampuni atau rasa benci dan dendam dalam hati tetap tersimpan dalam diri kita, kita tidak dapat memaafkan orang lain. Tetapi tidak mau dan tak mampu mengampuni orang lain, maka martabat kema-nusiaan kita sebagai citra Allah, Mahapengasih, kehilangan nilainya.

       Marilah kita sungguh serius berusaha mau memaafkan/mengapumi. Kita mohon Tuhan menghilangkan kekerasan dan kebekuan hati kita, agar dapat menemukan kegembiraan karena dapat dan mau memaafkan sesama kita. Bukan sekadar melupakannya, melainkan sungguh kehendak baik dan tulus untuk mau mengampuni/memaafkan sesama kita, seperti Allah dalam diri Yesus mengampuni segala dosa kita. Mengampuni/memaafkan, - itulah mengikut Yesus secara benar dan diberkati Tuhan. Petrus selalu memegang kunci Kerajaan Surga. Kunci itu diteruskan kepada segenap imam, yang merupakan Dewan Imam yang didirikan Kristus sendiri, untuk membuka jalan untuk bertemu dengan Kristus yang hadir dalam Gereja-Nya.

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/