Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901
Materi iman
Dokumen Gereja

No: masukkan no. yang dikehedaki - 0 (nol) untuk melihat daftar isi-(catatan kaki lihat versi Cetak) 

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

HARI RAYA NATAL A/2010

MISA MALAM

Yes 9:1-6 Tit 2:11-14 Luk 2:1-14

PENGANTAR

Kabar gembira yang kita dengar dalam merayakan Hari Raya Natal ini disampaikan Rasul Paulus kepada Titus: "Kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua orang sudah nyata" (Tit 2:11). Empat minggu lamanya selama masa Adven kita telah mempersiapkan diri menyambut kedatangan Penyelamat kita. Dan kini Penyelamat kita itu sudah datang! Karena Ia sudah datang, maka seluruh Gereja, yaitu kita semua, hari ini penuh rasa syukur ingin merayakannya dengan hati gembira.

 

HOMILI

Dalam peristiwa Natal, rahmat Allah penuh kebaikan dan kasih-Nya tidak tersembunyi lagi, melainkan telah menampakkan diri kepada kita. Kasih Allah itu menampakkan diri dalam rupa daging (manusia) seperti kita. Dalam penampakannya sebagai manusia, Allah menampakkan wajah-Nya sendiri. Dan penampakan diri Allah itu terjadi di Betlehem! Menurut Injil Lukas peristiwa ini terjadi pada kesempatan sensus pendaftaran penduduk di bawah pemerintahan Kaisar Agustus. Siapakah yang menampakkan diri itu? Seorang bayi yang baru lahir! Anak Maria Perawan! Di dalam diri bayi anak Maria inilah rahmat Allah, Penyelamat kita, telah menampakkan diri-Nya. Dan anak ini disebut Yesus, yaitu "Yehoshua", yakni "Allah yang menyelamatkan".

Natal adalah pesta atau hari raya cahaya . Memang bukan seperti sinar cahaya matahari pada siang hari, yang menyinari serentak segalanya, melainkan bagaikan suatu sinar lembut yang mulai bersinar di tengah malam hari dari sebuah kandang di Betlehem, Palestina, di mana si Bayi telah lahir. Memang si bayi ini adalah sinar yang menembus kegelapan malam hidup manusia. Sinar-Nya yang lembut ini menerangi, menolong dan membuat kita makin mampu memahami makna dan nilai hidup kita sendiri di tengah dunia di mana kita hidup . Dengan demikian kandang binatang ataupun gua, yang menggambarkan tempat kelahiran Yesus, adalah suatu tanda atau suatu undangan yang lembut namun tegas untuk mengajak kita hidup secara serius, apabila kita sungguh ingin diselamatkan oleh-Nya. Kelahiran Penyelamat di Betlehem adalah suatu penegasan, bahwa untuk diselamatkan kita tidak boleh bersikap, hidup dan berbuat hanya menurut perhitungan, ataupun bersikap secara separo-separo . Perayaan Natal bukanlah sekadar perayaan perasaan melulu, yang hanya menggembirakan, menyenangkan secara lahiriah, namun sebenarnya jauh dari makna kegembiraan Natal yang sejati.

Perayaan Natal justru harus membuka hati untuk memahami makna hidup kita yang hanya sementara, melainkan abadi. Allah menjadi manusia untuk mengingatkan kita, bahwa hidup kita bukan hanya sekarang. Ia datang untuk menunjukkan dan menyediakan jalan hidup yang harus kita tempuh bila ingin diselamatkan selamanya. Peristiwa Betlehem adalah suatu undangan lembut namun jelas dan tegas, bahwa hidup rohani, hidup batin, hidup keagamaan sejati, tidak dapat dipermain-mainkan , atau dinomorduakan. Bukan hanya segi tampaknya, bukan hanya penye-lenggaraan perayaannya betapapun indahnya, dan betapa meriah aneka musik yang diperdengarkan. Yang paling diperlukan ialah kejernihan dan ketulusan hati seperti si Bayi di Betlehem, - itulah yang mutlak diper-lukan. Pertama-tama Maria dan Yusuflah yang dapat sungguh menyambut kedatangan Penyelamat. Kemudian para gembala. Mereka itulah orang-orang yang masing-masing sebagai pribadi, tetapi juga sebagai kelompok atau himpunan maupun komunitas, yang dapat meneruskan kabar gembira dari Betlehem kepada semua orang lain. Mereka semua itu adalah orang-orang yang sederhana, tulus dan jernih hatinya, dan karena itu mampu meneruskan cahaya damai Bayi dari Betlehem kepada semua orang.

Di mana martabat dan hak insani manusia dilanggar, di mana kepentingan individualistis pribadi merajalela, di mana balas dendam masih berkuasa, di mana keadilan tak lagi dihargai, - di situlah semoga cahaya Natal dapat bersinar dan dapat menggerakkan dan menyatukan semua orang untuk hidup dengan semangat solidaritas yang otentik.

"Rahmat Allah Penyelamat kita telah tampak" (Lih.Tit 2:11) di dunia, di tengah-tengah kita. Marilah kita menjumpai Dia bersama para gembala untuk melihat wajah Allah Penyelamat kita, yang telah datang. Jangan sampai wajah Penyelamat kita tidak tampak, sehingga kedatangan-Nya sia-sia belaka. Wajah Penyelamat diri Yesus harus juga menjadi gambaran wajah kita juga, yang satu terhadap yang lain. Wajah orang yang merayakan Natal, adalah wajah orang yang mencerminkan solidaritas kristiani sejati.

 

Jakarta, 23 Desember 2010

 

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

 

 

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/