Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

MINGGU BIASA XXX / B

Yer 31:7-9 Ibr 5:1-6 Mrk 10:46-52

PENGANTAR
Ketiga Bacaan Kitab Suci pada hari Minggu ini, masing-masing dengan caranya sendiri, menyampaikan pengertian kristiani kepada kita, bahwa tugas seorang pemimpin, apakah itu sebagai guru, sebagai imam, atau sebagai pembesar, adalah mendatangkan kebahagiaan sejati bagi semua orang. Injil Markus hari ini berceritera tentang Yesus yang menolong seorang pengemis yang buta sampai ia dapat melihat. Dalam perayaan Ekaristi ini marilah kita menyediakan diri untuk memahami isi ceritera Injil Markus bagi kita sekarang ini.


HOMILI   

      Pertama-tama kita bersyukur kepada Tuhan atas keberhasilan kemajuan teknologis di aneka bidang, termasuk di bidang medis. Kita harus selalu bersyukur, menghargai dan menghormati segenap orang yang berkecimpung di bidang medis atau kesehatan. Mereka itu mengambil bagian dalam apa yang dilakukan Yesus dalam karya penyelamatan manusia yang utuh, termasuk menyembuhkan orang sakit. Sekaligus hendaknya kita juga selalu ingat, bahwa kebahagiaan dan keselamatan manusia bukan terbatas pada kesehatan fisik atau jasmani, namun juga kesehatan rohani atau spiritual. Sebab manusia memang bukan hanya manusia terdiri dari raga melainkan juga sekaligus dari jiwa.

Kita bersyukur kepada Tuhan, bahwa di paroki-paroki kita sebagai umat bukan hanya melaksanakan kewajiban di bidang ibadat dan kegiatan rohani, melainkan juga mengadakan pelbagai kegiatan jasmani sosial termasuk di bidang kesehatan. Pesan apa gerangan ingin disampaikan kepada kita dalam Injil Markus pada hari ini?

Bartimeus berani berseru: “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” Tetapi justru orang-orang yang hadir menegurnya supaya diam! Mengapa mereka itu berreaksi demikian? Apakah Bartimeus dengan seruannya itu melanggar peraturan, merugikan masyarakat? Apakah dia itu sebagai pengemis dianggap kotor, yang harus dijauhi atau disingkirkan? Bukankah Bartimeus sebagai pengemis buta itu adalah juga warga masyarakat seperti orang-orang lainnya. Bukankah ia juga berhak melihat dan menjumpai Yesus? Tetapi ketika Bartimeus mohon disembuhkan oleh Yesus, orang-orang lain yang mengikuti Yesus bukan menolongnya melainkan justru melarang dan menghalanginya!

Meskipun pelaksanaannya berbeda, namun pada dasarnya keadaan, sifat dan perlakuan banyak orang di dalam masyarakat yang dialami Yesus itu, sekarang pun masih ada! Ukuran yang dipakai orang dalam masyarakat untuk saling menghargai menghormati dan bersedia saling menolong masih sangat bersifat egoistis melulu, yang pada dasarnya ialah demi kepentingan diri sendiri.

Bukankah sebenarnya orang-orang- pengikut Yesus adalah orang-orang yang berbuat baik, dan menolong membawa Bartimeus kepada Yesus? Sikap Yesus total sebaliknya! Ia minta supaya Bartimeus dibawa kepada-Nya. Dan Ia bertanya kepadanya:“Apa yang kaukehendaki supaya Kuperbuat bagimu?” Jawaban Bartimeus: “Rabuni, semoga aku dapat melihat!” Yesus langsung mengabulkan permhonannya. Tetapi yang juga menyolok ialah, bahwa Bartimeus sesudah dapat melihat langsung mau mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya selanjutnya.

Apa pesan Injil Markus kepada kita dalam ceriteranya tentang penyembuhan Bartimeus itu? Ternyata Bartimeus bukan hanya melihat dengan matanya di luar, melainkan juga dengan cara lain yang lebih penting, yaitu ia juga melihat dengan mata hatinya. Sebab meskipun Bartimeus memang buta dalam penglihatan dengan matanya, namun dengan mata batinnya ia dapat mengenal siapakah Yesus itu sebenarnya! Itulah mata iman atau kepercayaannya. Dan mata kepercaannya inilah yang membuat dia menjadi murid Yesus, sehingga pada akhir ceritera Injil hari ini tertulis, bahwa Bartimeus “mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya”, yaitu ke Yerusalem, di mana Yesus akan menderita dan mati disalib.

Injil Markus ini memberi pesan kepada kita bahwa rasa belaskasih selalu merupakan ciri khas pewartaan dan pelayanan Yesus. Dan ceritera tentang aneka penyembuhan Yesus yang dicatat dalam Injil, bukan hanya untuk menunjukkan adanya penyembuhan penyakit fisik atau jasmani, melainkan juga penyakit rohani atau batin. Ada hubungan antara melihat dan percaya. Injil mengingatkan kita, bahwa di samping kebutaan jasmani/fisik ada juga kebutaan rohani/batin/jiwa.

Murid-murid Yesus pun dahulu dan sekarang memiliki dan mengalami aneka ‘penyakit’ dalam cara berpikir dan bersikap. Salah satu penyakit mereka itu secara simbolis disebut penyakit ‘kebutaan’, yakni ketidakmampuan untuk memahami makna penderitaan atau kesukaran hidup yang kita alami. Tanpa disadari kita sering memiliki pandangan yang sempit atau sebaliknya pandangan yang terlalu bebas tanpa batas. Penglihatan rohani atau batin kita terhadap orang lain dan keadaan masyarakat seringkali kabur, bahkan ibaratnya sering buta. Dan kebutaan penglihatan rohani itu bisa menghasilkan sikap pandangan dan hidup yang suram, pesimistis, kecewa bahkan putus asa. Tetapi sebaliknya kebutaan mata batin kita juga dapat menimbulkan suatu pandangan dan sikap acuh tak acuh, yang arogan, merasa serba tahu, merasa selalu benar, merasa tak pernah salah. Nah, untuk semuanya itu dibutuhkan mukjizat penyembuhan!

Apa kesimpulan kita? Kita ini harus bersikap seperti Bartimeus. Kita perlu sadar bahwa mata jasmani/fisik baik, bahkan sangat sehat, namun mata rohani/batin kita juga sering buta. Maka kita harus berusaha dan tahu merasa membutuhkan penyembuhan. Dan yang dapat menyembuhkan hanya Yesus Kristus. Kita harus berani berdoa: “Rabuni, semoga aku dapat melihat!” Tetapi apabila mata hati kita disembuhkan, kita harus selalu berani mengikuti Yesus.

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/