Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

Partner Link Website Katolik & Umum

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

MINGGU BIASA XXXII/A/2020

Keb. 6:13-17; 1Tes. 4:13-18; Mat. 25:1-13

PENGANTAR
   Hari ini Yesus mengajar kita dengan perumpamaan tentang gadis-gadis yang bijaksana dan yang bodoh. Kerajaan Allah, yaitu tata kehidupan umat manusia yang diwartakan dan didirikan oleh Yesus berkali-kali digam-barkan sebagai pesta pernikahan. Pesta pernikahan adalah gambaran sukacita dan kebahagiaan masyarakat. Suatu kehidupan kristiani, jasmani maupun rohani sejati, harus disiapkan dengan baik, secara tekun, dan sungguh-sungguh. Gadis-gadis yang bijaksana dan yang bodoh atau teledor, - keduanya itu merupakan gambaran tentang perbedaan sikap sadar terhadap kehidupan kristiani sejati

HOMILI   

Perumpamaan tentang sepuluh gadis yang bijaksana dan bodoh/te-ledor itu hanya terdapat dalam Injil Matius. Dahulu perumpamaan ini menunjukkan situasi yang dihadapi Yesus sendiri. Secara singkat: ada orang-orang yang mendengarkan ajaran Yesus dan mau menerimanya, dan ada pula yang menolaknya. Dan untuk zaman kita sekarang ini perumpamaan itu menggambarkan keadaan Gereja dan keadaan pribadi warga-warganya. Bagi kita Kristus Almasih  bagaikan Mempelai sudah datang, tetapi meskipun sudah dibaptis menjadi warga Gereja, menjadi orang kristiani, namun belum semuanya melihat, mengalami dan merasakan adanya kegembiraan dan kebahagiaan Kerajaan Allah bagaikan dalam pesta pernikahan. Sebab banyak orang bersikap acuh tak acuh sebagai orang beriman.  Padahal siapsiaga dan tekun mendengarkan dan melaksanakan sabda Allah adalah suatu syarat mutlak untuk menyambut kedatangan Kristus dalam hidupnya.

          Apa sebenarnya kesiapsiagaan yang harus dimiliki dan dilakukan agar sungguh merasa gembira dan bahagia dalam Kerajaan Allah, atau dalam Gereja sebagai  persekutuan orang-orang  pengikut Yesus?  Siap siaga tak lain tak bukan ialah berbuat baik terhadap orang lain/sesama. Perbuatan baik apa? Dalam Injil Matius ditegaskan di banyak  teks  apa yang harus kita lakukan untuk berbuat baik, yaitu: menghindari perbuatan jahat (15:19), mengasihi musuh (5:44), saling mengasihi (25:12), mengampuni orang-orang yang telah berbuat jahat kepada kita (18:21-35), memiliki iman yang teguh (21-21), setia kepada Yesus (10:32) dan mengasihi Allah sepenuhnya (22:37). – Memiliki dan melakukan semua itu, itulah kesiapsiagaan sebagai syarat mutlak untuk bertemu dengan Allah dan merasa sungguh bahagia!

          Kita sungguh membutuhkan minyak untuk hidup kita. Gadis-gadis yang  bodoh/teledor  bersikap  acuh tak acuh, tidak ambil pusing, tak peduli, tak menyiapkan pelaksanaan tugas mereka. Padahal dalam khotbah-Nya di bukit Yesus berkata: “Hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga”(Mat 5:16). Maka minyak yang dimaksudkan Yesus dalam perumpamaan itu adalah berbuat baik terhadap sesama. Orang-orang yang bijaksana ialah mereka, yang selalu menaruh perhatian dan ikut prihatin akan kebutuhan sehari-hari, baik dalam keluarga masing-masing, dalam tetangga atau dalam lingkungan, bahkan perhatian kepada orang-orang yang tidak dikenalnya.

          Kita kerapkali memiliki lampu/pelita, namun kita tidak punya minyak untuk menyalakannya!  Ibu Teresa dan Kalkuta yang sekarang telah menjadi Santa berkata:

                   “Apakah minyak untuk pelita kita dalam hidup kita?
                   Minyak pelita kita ialah hal-hal kecil sehari-hari:
                   kesetiaan, tepat waktu, kata-kata lembut, prihatin
                   terhadap orang lain, tahu berdiam diri bila perlu,
                   tahu memilih waktu, tahu kapan berbicara, kapan bertindak.
                   Inilah tetesan-tetesan air kasih, yang mampu membuat
                   hdup kita bersinar terang sebagai orang beriman”.

          Itulah yang dilakukan Santa Teresa dari Kalkuta. Sumber minyak itu baginya adalah Allah seperti tampak dalam diri Yesus, yang selalu siap siaga terhadap kehendak Allah.
Apakah sumber minyak kita? Sama! Sumber minyak yang kita butuhkan supaya pelita kita dapat menyala dengan terang ialah Allah sendiri. Karena itu hubungan kita dengan Allah harus selalu ada dan dipelihara. Kita  harus senantiasa siap dan siaga mendengarkan dan melaksanakan sabda-Nya. Dan Allah justru berbicara paling banyak dan paling jelas melalui keadaan dan kebutuhan dialami oleh orang-orang sesama kita. Perbuatan-perbuatan baik kita kepada sesama, itulah pelita terang yang menunjukkan kepada kita kedatangan Kristus sebagai Mempelai Gereja dalam hati kita,  yang  dapat kita rasakan bagaikan kegembiraan dalam pesta pernikahan!


Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/