Kalender Liturgi hari ini
Kitab Hukum Kanonik
No. kanon: contoh masukan no kanon: 34,479,898-906
KITAB SUCI +Deuterokanonika
: - Pilih kitab kitab, masukan bab, dan nomor ayat yang dituju
Katekismus Gereja Katolik
No. : masukkan no. katekismus yang dikehedaki, misalnya 3, 67, 834 atau 883-901

Partner Link Website
Keuskupan, Paroki & Gereja

 

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

HARI RAYA TRITUNGGAL MAHAKUDUS/C/2016

Ams 8:22-31 Rom 5:1-5 Yoh 16:12-15


PENGANTAR
     Sesudah secara berturut-turut merayakan Hari-Hari Raya Paskah, Kenaikan Tuhan, dan Pentakosta, hari ini kita merayakan Hari Raya Tritunggal Mahakudus. Dalam Injilnya Yohanes menulis: "Apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran", dan ditambahkan: "Segala sesuatu yang Bapa punya adalah kepunyaan-Ku". Marilah kita memperdalam iman kita mengenai misteri Tritunggal Mahakudus, terutama dalam hubungannnya dengan keluarga-keluarga kita.

HOMILI
     Sejak dahulu sampai sekarang kita sebagai umat kristiani dalam hati selalu bertanya: Apakah sebenarnya artinya, bahwa Allah adalah satu tetapi ada tiga pribadinya, atau memang ada tiga tetapi hanya satu? Bukankah sebenarnya lebih mudah dan lebih masuk akal untuk percaya menurut keyakinan kaum Muslim, yaitu bahwa Allah memang hanyalah satu.

     Jawabannya sederhana saja: Gereja kristiani percaya akan Tritunggal bukan seakan-akan Gereja suka mempersulit atau membuat iman makin berbelit-belit, melainkan karena kebenaran ajaran tentang Tritunggal itu telah diwahyukan atau diberikan oleh Kristus sendiri. Kesukaran pengertian kita tentang Tritunggal, yang kita terima dari Yesus Kristus, bukanlah bertentangan dengan kebenarannya itu sendiri. Sebab bagaimanapun juga, dengan rendah hati dapatkah kita ini mengukur dan menilai kemampuan Allah sebagai pencipta dengan kemampuan kita sebagai makhluk yang diciptakan-Nya?

     Dalam kenyataannya, sesudah rahasia Trinitas diwahyukan oleh Kristus, kita berkesimpulan bahwa apabila Allah memang ada, maka tidak ada kemungkinan lain bagi kita untuk percaya, bahwa Allah itu memang adalah satu, namun sekaligus tiga. Mengapa? Karena cinta atau kasih sejati hanya mungkin berada di antara dua pribadi atau lebih. Padahal Yohanes penulis Injil hari ini, dalam suratnya kepada umat menegaskan, bahwa Allah adalah kasih (1 Yoh 4:8.16). Karena itu dalam Allah harus ada pribadi yang mengasihi, dan ada pribadi yang dikasihi, dan ada pula kasih yang menyatukan mereka berdua, yaitu Bapa dan Putera.

     Kita umat kristiani adalah pengakut agama yang monoteistis (mengakui hanya satu Allah). Kita percaya kepada Allah yang memang satu, namun tidak "soliter" (solitary), "total sendiri". Sebab bagaimana Allah dapat mengasihi, apabila Allah itu total mutlak satu? Jadi hanya mengasihi diri-Nya sendiri? Apabila demikian, maka kasih-Nya itu bukanlah kasih sesungguhnya, lebih berupa egoisme atau "narsisisme".

     Patut diperhatikan bahwa sangat penting dan berharga nilainya bagi hidup kita sebagai umat kristiani, untuk merenungkan dan memahami makna Tritunggal yang kita rayakan hari ini. Khususnya untuk keluarga-keluarga kita.

     Misteri atau rahasia Tritunggal selalu memperlihatkan kepada kita suatu kenyataan, yang seringkali kurang kita perhatikan, yaitu adanya kesamaan dan adanya perbedaan. Memang ada kesamaan martabat, sekaligus ada juga perbedaan kekhususan masing-masing. Bukankah kenyataan ini merupakan hal yang sangat penting, yang harus kita ketahui, kita pelajari dan kita hayati untuk dapat hidup dengan damai sejahtera di dunia ini? Itu perlu kita sadari, agar semua orang yang berbeda warna kulitnya, lain suku bahasa dan bangsanya, tetap dapat merasakan hidup penuh kegembiraan, karena kita semua ini sebagai pribadi, meskipun berbeda-beda mempunyai martabat yang sama nilainya!

     Paus Fransiskus sekarang ini memperhatikan dan merindukan kebahagiaan keluarga. Beliau menghendaki adanya kegembiraan cinta, "Amoris Laetitia" dalam keluarga. Karena itu dengan merenungkan rahasia Tritunggal, kita harus memperhatikan keluarga-keluarga kita. Ajaran Gereja tentang kesamaan martabat kita sebagai manusia pertama-tama berlaku dalam lingkungan keluarga! Setiap keluarga harus berada, bersikap dan berbuat gambaran hidup ilahi Tritunggal di dunia ini. Kesamaan martabat pribadi, dan perbedaan peranan atau tugas serta sifat atau pembawaan ayah, ibu dan anak masing-masing dalam keluarga, harus disatukan harmonis dengan kasih/cinta, ibaratnya sebagai kesatuan kasih dalam Allah Tritunggal di antara Bapa, Putera dan Roh Kudus. Dalam keluarga ada kelainan kelamin (laki-laki dan perempuan), dan perbedaan usia (orang tua dan anak), yang mau tak mau menimbulkan perbedaan sikap, tingkah laku, rasa dan selera. Maka keberhasilan hidup perkawinan dan keluarga tergantung pada kadar ukuran yang dimiliki dan dipakai setiap anggota keluarga menurut kemampuannya secara benar menurut kasih.

     Demikianlah Tritunggal janganlah kita lihat sebagai misteri/rahasia yang sangat jauh dan suligt dipahami. Sebaliknya suatu rahasia yang dekat dengan hidup kita. Mengapa? Karena kita semua ini diciptakan Allah menurut gambaran Allah Tritunggal. Kita dipanggil untuk menyusun suatu komunitas, khususnya membangun suatu keluarga, di mana ayah, ibu dan anak, masing-masing dengan kesamaan martabat dan sekaligus dengan perbedaan peranan dan pembawaan dirinya, tetap bersatu dalam kasih. Keluarga kristiani dipanggil untuk menghayati hidup dengan gambaran hidup Tritunggal.

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

 

Diperkenankan untuk mengutip sebagian atau seluruhnya isi materi dengan mencantumkan sumber http://www.imankatolik.or.id/